Minggu, 15 Maret 2009

mikrobiologi

Nama : Gusti ali mustaqim
Nim : H1E107003

prodi : T. Lingkungan


POLIOMIELITIS / POLIOVIRUS (PV)

Virus polio adalah virus yang paling kecil dibandingkan dengan virus lainnya. Virus polio termasuk ke dalam famili Picornaviridae (Pico adalah bahasa Yunani yang artinya kecil). Taermasuk dalam golongan IV ((+) ssRNA, genusnya adalah enterovirus, dan termasuk dalm spesies POLIOVIRUS. Kekecilan virus ini tidak hanya dari ukuran partikelnya saja, tetapi juga dari ukuran panjang genomnya. Virus ini memiliki diameter sekitar 30 nm dan memiliki RNA benang positif (positive strand RNA) sebagai genomnya dengan panjang sekitar 7.5 kilobasa.



Gambar : Poliovirus

Setelah terinfeksi ke dalam sel, RNA keluar dari sarangnya dan di dalam sel RNA ini memiliki dua fungsi. Yang pertama adalah sebagai mRNA yang ditranslasikan menjadi protein-protein yang berfungsi untuk pembentukan tubuh dan enzim-enzim yang berfungsi untuk perkembang-biakan (replikasi) virus itu sendiri.

Fungsi yang kedua dari RNA ini adalah sebagai bahan dasar (template) untuk pembentukan RNA benang negatif (negative strand RNA). RNA benang negatif ini kemudian digunakan lagi sebagai template untuk membentuk RNA benang positif. Begitu seterusnya sehingga benang positif RNA yang menjadi genom virus ini terus bertambah banyak. RNA yang terbentuk kemudian dibungkus oleh protein-protein pembentuk tubuh dan keluar dari sel sebagai virus baru. Rentetan proses ini dijalankan oleh enzim-enzim dari sel dan dari virus itu sendiri.

Dari proses ini jelas kalau RNA merupakan unsur yang esensial dalam perkembang-biakan virus. Begitu juga untuk mendapatkan virus. Artinya, kalau kita punya RNA dan RNA ini bisa ditransfer ke dalam sel, niscaya virus akan berkembang biak dan dengan mudah akan bisa didapatkan. Biasanya kita bisa mendapatkan virus polio sekitar 24 jam setelah RNA ditransfer dalam sel. Sesuai dengan namanya, infeksi virus polio menyebabkan gejala polio (poliomyelitis) atau lumpuh.

Sampai sekarang telah diisolasi 3 strain virus polio yaitu tipe 1 (Brunhilde), tipe 2 (Lansing), dan tipe 3 (Leon). Infeksi dapat terjadi oleh satu atau lebih tipe tersebut. Epidemi yang luas biasanya disebabkan oleh tipe 1. Virus ini relatif tahan terhadap hampir semua desinfektan (etanol, isopropanol, lisol, amonium kuartener, dll). Virus ini tidak memiliki amplop lemak sehingga tahan terhadap pelarut lemak termasuk eter dan kloroform. Virus ini dapat diinaktifasi oleh formaldehid, glutaraldehid, asam kuat, sodium hipoklorit, dan klorin. Virus polio menjadi inaktif dengan pemanasan di atas 42 derajat Celcius. Selain itu, pengeringan dan ultraviolet juga dapat menghilangkan aktivitas virus polio.

Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).

Polio dapat menyebar luas diam-diam karena sebagian besar penderita yang terinfeksi poliovirus tidak memiliki gejala sehingga tidak tahu kalau mereka sendiri sedang terjangkit. Setelah seseorang terkena infeksi, virus akan keluar melalui feses selama beberapa minggu dan saat itulah dapat terjadi penularan virus.

Partikel polio virus merupakan enterovirus yang khas. Partikel ini tidak aktif dipanaskan pada suhu 55c selama 30 menit, tetapi Mg2, 1 mol/l, dapat mencegah inaktifasi ini. Hal ini dikarenakan polio virus yang dimurnikan inonaktifkan oleh konsentrasi klorin.

  • Jenis Polio

  1. Polio non-paralisis

Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif. Terjadi kram otot pada leher dan punggung, otot terasa lembek jika disentuh.


  1. Polio paralisis spinal

Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan. Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. Setelah virus polio menyerang usus, virus ini akan diserap oleh pembulu darah kapiler pada dinding usus dan diangkut seluruh tubuh. Virus Polio menyerang saraf tulang belakang dan syaraf motorik -- yang mengontrol gerakan fisik. Pada periode inilah muncul gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem saraf pusat -- menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring dengan berkembang biaknya virus dalam sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan syaraf motorik. Syaraf motorik tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi lemas -- kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP). Infeksi parah pada sistem saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot pada toraks (dada) dan abdomen (perut), disebut quadriplegia.


  1. Polio bulbar

Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang otak ikut terserang. Batang otak mengandung syaraf motorik yang mengatur pernapasan dan saraf kranial, yang mengirim sinyal ke berbagai syaraf yang mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan yang mengatur pergerakan leher.

Polio dapat menular melalui kontak antarmanusia. Virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut ketika seseorang memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi feses. Poliovirus adalah virus RNA kecil yang terdiri atas tiga strain berbeda dan amat menular. Virus akan menyerang sistem saraf dan kelumpuhan dapat terjadi dalam hitungan jam. Polio menyerang tanpa mengenal usia, lima puluh persen kasus terjadi pada anak berusia antara 3 hingga 5 tahun. Masa inkubasi polio dari gejala pertama berkisar dari 3 hingga 35 hari.

Virus polio sangat mudah penularannya jika terkait dengan perbaikan system higienis dan system sanitasi, terutama pada daerah yang beriklim lebih dingin dapat meningkatkan transisi dari penyakit paralisis endemik menjadi epidemic pada masyarakat tersebut.

Manusia adalah satu-satunya reservoir infeksi yang diketahui. Dalam lingkungan yang padat dengan higienie dan sanitasi yang buruk didaerah beriklim panas, daerah dengan hampir semua anak menjadi kebal pada kehidupan, poliovirus dapat mempertahankan diri dengan menginfeksi sebagian kecil populasi. Sedangkan di zona beriklim sedang dengan tingkat higieni yang baik, epidemic terjadi setelah periode penyebaran virus yang terbatas sampai tercukupinya jumlah anak rentan yang tumbuh untuk menjadi sasaran penularan didaerah tersebut. Virus tersebut didapatkan dari faring dan usus pasien yang sehat. Dalam hal ini apabila satu rang keluarga telah terinfeksi poliovirus maka anggota keluarga yang lainnya pun akan sangat rentan terinfeksi juga hal ini dikarenakan penyebaran poliovirus yang sangt cepat.

Pada iklim sedang infeksi poliovirus terutama terjadi selama musim panas. Virus terdapat dalam kotoran selama periode prevelansi tinggi dan dapat berperan sebagai sumber kontaminasi air yang digunakan untuk minum, mandi, ataupun irigasi. Terdapat korelasi langsung antara higienis dan sanitasi yang buruk, kepadatan penduduk, dan akusisiinfeksi serta antibody pada usia dini.

Polio virus dapat hidup di air selama berbulan - bulan, sehingga dapat menginfeksi melalui air yang diminum. Dalam keadaan beku virus ini dapat ditularkan lewat lingkungan yang buruk, melalui makanan dan minuman. penularan dapat terjadi melalui alat makan bahkan melalui ludah.




KEUNTUNGAN DARI POLIOVIRUS

Secara garis besar memang poliovirus ini lebih cenderung mengarah kearah yang merugikan dan malah dianggap sebagai virus yang berbahaya dan ditakuti. Seiring berjalannya waktu dari poliovirus itu sendiri para ahli malah mendapatkan keuntungan. Karena dari poliovirus sendiri telah ditemukan vaksin yang dapat membunuh poliovirus tersebut, yang pada awalnya virus tersebut dianggap sebagai virus yang berbahaya dan mematikan sekarang tidak lagi karena virus tersebut sudah dapat dikontrol.

Vaksin yang efektif terhadap polio sudah dikembangkan pada tahun enam puluhan dan digunakan untuk program eradikasi/ pemusnahan polio. Dengan program imunisasi yang menggunakan vaksin tersebut, sekarang virus polio liar sudah hampir musnah.

Vaksin efektif pertama dikembangkan oleh Jonas Salk. Salk menolak untuk mematenkan vaksin ini karena menurutnya vaksin ini milik semua orang seperti halnya sinar matahari. Namun vaksin yang digunakan untuk inokulasi masal adalah vaksin yang dikembangkan oleh Albert Sabin. Inokulasi pencegahan polio anak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pittsburgh, Pennsylvania pada 23 Februari 1954. Polio hilang di Amerika pada tahun 1979.

Vaksin Polio Inactivated atau Inactived Poliomyelitis Vaccine (IPV) belum banyak digunakan. IPV dihasilkan dengan cara membiakkan virus dalam media pembiakkan, kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan pemanasan atau bahan kimia. Karena IPV tidak hidup dan tidak dapat replikasi maka vaksin ini tidak dapat menyebabkan penyakit polio walaupun diberikan pada anak dengan daya tahan tubuh yang lemah. Vaksin yang dibuat oleh Aventis Pasteur ini berisi tipe 1, 2, 3 dibiakkan pada sel-sel VERO ginjal kera dan dibuat tidak aktif dengan formadehid.

Selain itu, dalam jumlah sedikit terdapat neomisin, streptomisin dan polimiksin B. IPV harus disimpan pada suhu 2 - 8 derajat C dan tidak boleh dibekukan. Pemberian vaksin tersebut dengan cara suntikan subkutan dengan dosis 0,5 ml diberikan dalam empat kali berturut-turut dalam jarak dua bulan Untuk orang yang mempunyai kontraindikasi atau tidak diperbolehkan mendapatkan OPV maka dapat menggunakan IPV. Demikian pula bila ada seorang kontak yang mempunyai daya tahan tubuh yang lemah maka bayi dianjurkan untuk menggunakan IPV.

Vaksin IPV diberikan melalui suntikan. Vaksin IPV berisi tiga jenis virus polio yang dilemahkan. 4 suntikan dengan selang waktu 2 bulan antara tiap dosis menghasilkan kekebalan yang tahan lama. IPV dapat mengganti dengan vaksin polio oral (OPV) jika dosis polio sebelumnya diberikan melalui mulut.


Sedangkan vaksin Virus Polio Oral atau Oral Polio Vaccine (OPV). Vaksin OPV pemberiannya dengan cara meneteskan cairan melalui mulut. Vaksin ini terbuat dari virus liar (wild) hidup yang dilemahkan. Komposisi vaksin tersebut terdiri atas virus polio tipe 1, 2 dan 3 adalah suku Sabin yang masih hidup tetapi sudah dilemahkan (attenuated). Vaksin ini dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dalam sucrosa. Tiap dosis sebanyak dua tetes mengandung virus tipe 1, tipe 2, dan tipe 3 serta antibiotika eritromisin tidak lebih dari 2 mcg dan kanamisin tidak lebih dari 10 mcg.

Virus dalam vaksin ini setelah diberikan dua tetes akan menempatkan diri di usus dan memacu pembentukan antibodi baik dalam darah maupun dalam dinding luar lapisan usus yang mengakibatkan pertahan lokal terhadap virus polio liar yang akan masuk. Pemberian air susu ibu tidak berpengaruh pada respons antibodi terhadap OPV dan imunisasi tidak boleh ditunda karena hal ini. Setelah diberikan dosis pertama dapat terlindungi secara cepat, sedangkan pada dosis berikutnya akan memberikan perlindungan jangka panjang.

Virus polio ini dapat bertahan di tinja hingga enam minggu setelah pemberian vaksin melalui mulut. Anak yang telah mendapatkan imunisasi OPV dapat memberikan pengeluaran virus vaksin selama enam minggu dan akan melakukan infeksi pada kontak yang belum diimunisasi. Untuk orang yang berhubungan (kontak) dengan bayi yang baru diimunisasi harus menjaga kebersihan dengan mencuci tangan setelah mengganti popok bayi.

Vaksin ini sangat stabil, namun sekali dibuka akan kehilangan potensi karena perubahan pH setelah terpapar udara. Kebijakan Departemen Kesehatan menganjurkan bahwa vaksin polio yang telah dibuka botolnya pada akhir sesi imunisasi massal harus dibuang. Vaksin OPV dapat disimpan beku. Apabila akan digunakan vaksin beku tersebut dapat dicairkan dengan cepat, dengan ditempatkan antara dua telapak tangan dan digulir-gulirkan, dijaga agar warna tidak berubah yaitu merah muda sampai oranye muda sebagai indikatoir pH.

Sedangkan Vaksin polio tunggal (mOPV1) sebaiknya digunakan sebagai imunisasi tambahan untuk mengatasi secara cepat penyebaran/transmisi virus polio saat terjadi kejadian luar biasa (KLB), seperti terjadi di Indonesia tahun 2005. Vaksin tersebut dapat memutus mata rantai penularan virus polio.

Setelah adanya vaksin tersebut penyakit polio yang disebarkan oleh poliovirus sudah dianggap penyakit yang tidak berbahaya lagi bahkan pada zaman sekarang penyakit polio hampir 100% sudah diberantas.

Keuntungan dari virus adalah dapat digunakan di dalam usaha - usaha yang berkaitan dengan kesehatan. Virus biasanya digunakan untuk memindahkan materi genetik dari satu bakteri ke dalam bakteri lainnya yang tidak mungkin dilakkan oleh manusia. Berdasarkan prinsip itu, maka virus digunakan untuk keperluan berikut :


1. Membuat antitoksin

DNA manusia yang mengontrol suatu antitoksin terhadap suatu penyakit dipindahkan oleh virus kepada bakteri tertentu. Dengan begitu bakteri tersebut akan memiliki dan memproduksi antitoksin yang dimiliki manusia. Setelah bakteri tersebut dibiakkan dan dipanen, maka antitoksin tadi dapat digunakan kembali ke dalam tubuh manusia lainnya yang memerlukan antitoksin tersebut.


2. Melemahkan bakteri

Jika DNA virus lisogenik masuk ke dalam DNA bakteri patogen (penyebab penyakit), maka bakteri tersebut menjadi tidak berbahaya sehingga dapat digunakan dalam vaksinasi manusia


3. Memproduksi vaksin

Vaksin yang didapat dari bakteri yang telah dilemahkan, jika disuntikkan ke dalam tubuh manusia tidak akan menimbulkan penyakit, melainkan tubuh manusia itu akan memproduksi antibodi untuk patogen tersebut sehingga suatu saat jika penyakit patogen sebenarnya menyerang, tubuh manusia tersebut akan dapat melawan patogen tersebut













Kamis, 12 Maret 2009

12:15pm

aqu di NC bjb. . . dengan temend2qyu..
ada cabul.... ada ewan... dan ada temeen baru qite.. namne adems...
salam kenal...







(c) gtalmstqm

lahirnyuaaaa... seorang lelaki tampand....

assss...

ne blog aqyu... baru bikin low... !!!

... ne jamnyua..11:18pm tanggalna.. 21-03-2009

jadi ini hari yuanggg..

bersejarah buat aqyuuuu...


mkcihh... buat ibu nopi... yang udah ngasih tugas bwatt bikin bloggg...

heheheheh...







(c) gtlmstqm....